Jumat, 24 Juni 2011

SEBUAH KISAH ANAK LAYANGAN (Part 1)

Mungkin ketika pertama kali membaca judul ini kalian pasti akan berfikir jika anak layangan yang dimaksud adalah seorang anak layangan dalam arti kiasan yaitu ALAY, memang sih kebanyakan orang menganggap jika anak layangan adalah singkatan dari alay yang setiap pagi menjadi penonton bayaran di sebuah acara televisi, yaa walau bagaimanpun menjadi penonton bayaran merupakan suatu pekerjaan yang halal daripada mereka harus melakukan tindakan kriminalitas di jalanan. Seenggaknya mereka mau berusaha mendapatkan rezeki yang halal dengan menjadi penonton bayaran dan bisa eksis di tv, tanpa disadari kita pasti akan hafal jika suka menonton acara musik pagi, jika kita melihat dengan seksama ko penontonnya itu-itu aja ya sama kaya kemaren-kemaren, secara tidak langsung kita sedikit mengetahui bahwa orang itu eksis di dunia televisi walaupun cuma jadi penonton, bisa dibilang selebritis acara musik..sebenarnya saya masih bingung juga kenapa penonton bayaran itu disebut ALAY? Apa sih kriteria sehingga orang itu disebut sebagai alay?

Ok, kita kembali ke topik sebenarnya biar gak terlalu banyak basa-basinya dan gak terlalu bosan bacanya..(sebenernya sih bingung mau nulis apa lagi) hehehe

Ini adalah sebuah kisah tentang seorang anak dari pedagang layangan di daerah pinggiran Jakarta. Usaha menjual layangan ini sudah ditekuni secara turun menurun oleh keluarga kecil yang satu ini, sebut saja keluarga Sobirin dan anaknya bernama James, memang nama ayah dan anak sedikit bertolak belakang, nama ayah asli dari jakarta dan anaknya sedikit serapan dari nama orang luar negeri. Aneh gak? Mudah-mudahan si gak aneh yah dengan nama itu..

Sedikit cerita tentang sejarah nama James dan kehidupan keluarga Sobirin yang bisa dibilang keluarga yang kurang mampu namun bahagia kehidupannya. Suka duka kehidupan mereka jalani dengan senyuman, walaupun terkadang senyuman itu untuk menutupi masalah yang sedang mereka hadapi.

Awal terbentuknya anak bernama James ini berawal dari sang ayah yaitu Sobirin sewaktu muda dan belum menikah ini bertemu dengan wanita bernama Lela disebuah kebun belakang rumah keluarga Sobirin, ketika itu Sobirin sedang membuat sebuah layangan besar pesanan orang, kemudian lewat lah sesosok wanita cantik didepannya dengan membawa kerangjang belanjaan membuat si Sobirin ini terpana melihat Lela berjalan dihadapannya, bisa dianggap Lela ini adalah kembang desa di daerah itu. Sontak pandangan Sobirin tertuju kepada Lela. Sadar dipandangi oleh Sobirin, Lela pun menyapanya

Lela                 : “permisi abaaaaaang”

Sobirin             : dengan gagap menjawab, “ si..si..si..silakang neng”

Dengan pesonanya Lela tetap berjalan ke arah rumahnya yang berada tidak jauh dari rumah Sobirin.
Sobirin tetap memandangi Lela yang sudah melewati dirinya sambil menyayat bambu yang dipegangnya dan sedikit berkhayal yang indah-indah tentang Lela.

Selang beberapa waktu, ketika sedang asiknya berkhayal, ibu dari Sobirin ini menepuk punggung belakangnya dengan cukup keras.

Nyak               : “Plaaaaaaaaaak” (sound efek nyak memukul punggung Sobirin)

Terkejutlah Sobirin dengan tepukan nyak-nya dan secara spontan Sobirin langsung mengambil ancang-ancang atau kuda-kuda layaknya sedang melakukan silat khas betawi

Sobirin             : “ciyaat, ciyaaat, ciyaaaaat”

Sadar dikagetkan oleh nyak-nya sobirin pun berkata”

Sobirin             : “aduuuuuuh nyaaaaaaaak, ngagetin aje dah aaah”

Nyak               : “nah elu kerja bengong aje dari tadi nyak perhatiin”

Sobirin             : “yaelah nyak kaya kaga tau aje anak mude, pan aye lagi ngayal nyaak, eh tapi ngomong-ngomong si Lela cantik juga ye nyaak”.

Nyak               : “udeh lo jangan kebanyakan ngayal, beresin dah tuh layangan”

Sobirin             : “iye….iye”

Nyak pun kembali beranjak ke dalam rumah dan Sobirin kembali melanjutkan membuat layangannya, namun sambil tersenyum-senyum manis. (kebayang kan yah?)

Bersambung dulu yee, nanti ane lanjutin ceritanye….. (jadi kebawa betawi gini)

Rabu, 08 Juni 2011

AKU DAN TEMPE MENDOAN

Sedikit cerita tentang aku dan tempe mendoan
Mungkin agak sedikit aneh tentang judul aku dan tempe mendoan, namun ini agak sedikit menarik untuk dijadikan bahan tulisan aku kali ini

Kenapa harus aku dan tempe mendoan??
mungkin yang pertama, aku ini salah satu orang yang sangat suka makan tempe mendoan
semasa kecil sejak saya tinggal bersama nenek dan kakek saya di suatu daerah jawa tengah, tepatnya di daerah Banjarnegara, ketika itu ibu dan ayahku berada di Jakarta.
Aku masih sangat kecil, mungkin sekitar usia 3-4 tahun, ketika aku menangis dipagi hari aku selalu diberi tempe mendoan oleh ibu asuhku dulu. 
Entah kenapa setiap aku diberi tempe mendoan aku selalu terdiam dari tangisku, cerita dengar cerita sih aku selalu diberi 2 tempe mendoan, satu aku pegang dengan tangan kanan, satu lagi aku pegang dengan tangan kiriku, terlihat maruk memang..ehehe..tapi memang ibu asuhku dulu sudah mengenal betul karakterku yang suka makan dan nyemil.
Oleh karenannya beliau selalu memberi 2 buah tempe mendoan.
Gigit satu tempe dari tangan kanan, kemudian gigit satu tempe dari tangan kiri.
Kebayang yah betapa rakusnya aku pada waktu itu..hehehehe...(maklum masih anak kecil) :p
tapi sifat itu alhamdulillahnya tidak terbawa hingga aku tumbuh dewasa.
aku yang sekarang ini lebih memilih untuk mengalah kepada siapapun asalkan itu memang untuk sesuatu yang baik. (yang ini kurang tau pastinya juga sih) hehe
kembali ke topik permasalahan tentang tempe mendoan *biar gak terlalu ngalor ngidul
aku heran kenapa tempe mendoan itu begitu melekat denganku hingga saat ini.
sampai setiap ibuku hendak kepasar untuk membeli sayuran aku selalu memesan kepada ibu untuk membeli tempe, yaa walaupun terkadang bukan jenis tempe mendoan dan hanya tempe biasa.
tapi aku selalu minta dibuatkan seperti tempe mendoan, itu berlangsung sampe saat ini lho..
walaupun hanya dengan tempe mendoan aku bisa makan dengan lahapnya
walaupun hanya makanan rakyat tapi tempe ini mengandung banyak gizi yang baik untuk tubuh karena terbuat dari kacang kedelai.
dulu nih, ketika aku masih polos-polosnya kakak dan tanteku selalu bilang :
"to, orang kan bikin tempe kan pake celana dalam"
sedikit menjijikan memang ketika pertama kali mendengarnya pada waktu itu, namun karena tempe medoan memang sudah menjadi makanan favoritku, itu semua itu tidak aku hiraukan, karena saking doyannya aku dengan tempe mendoan..hehehe
tapi seiring bertambahnya usia dan cara berfikirku, kalau dipikir-pikir, bodoh bener ya aku pada waktu itu ketika percaya makna kiasan klo orang membuat tempe menggunakan celana dalam
padahal secara logika maksudnya orang yang membuat tempe itu menggunakan celana dalam dan bukan membuat tempe dengan celana dalam yang digunakannya..
lucu banget asli kalau mengingat masalah itu..


tapi walau bagaimanapun I LOVE TEMPE MENDOAN banget lah


Dari kedelai ku berasal
Dibersihkanlah aku meski dengan kaki terbungkus kresek
Dicucinya aku hingga bersih
Direbuslah aku hingga memutih

Kemudian diambillah aku yang tinggal biji
Ditambahkanlah aku ragi
Kemudian dikemaslah aku
Entah dengan plastik ataukah daun pisang saja

Dibiarkan aku untuk beberapa lama
Untuk kemudian bertumbuh selimut putih
Seputih salju dan selembut sutra
Membungkus diriku, pertanda aku sudah matang

Dijualnya aku ke pasar
Sampai ketangan para ibu yang sudah menunggu
Dipotong-potonglah aku
Untuk kemudian mereka menjadi penentu nasibku

Apakah hanya digoreng?
Dibuat burger? dibuat steak?
Dibuat kering tempe atau terik tempe?
Ah, terserah....

Aku turut berbangga
Meski asalku dari tanah yang becek dan bau
Tapi aku turut menyehatkan
Dan mencerdaskan...

Yang jelas, aku turut berbangga
Sebagai tradisi bangsa, meski hak patenku direnggut bangsa lain
Tapi percaya, aku....sang tempe Indonesia
Tetaplah yang nomor satu, tiada tandingan

Itulah aku....Sang Tempe